Review Mia and The White Lion – Persahabatan yang Intim

Bersahabat memang bisa dengan sama siapa, entah itu teman sekolah, teman dekat rumah, rekan kerja atau dengan orang lainnya. Namun bagaimana jika bersahabat dengan seekor singa? Singa putih tepatnya. Tentu kalian akan bertanya – tanya bukan? Bagaimana bisa manusia bersahabat dengan singa? Well, itulah yang tertuang dalam film Mia and The White Lion.

Buat sobat Agan yang suka dengan hewan dan khususnya dengan satwa liar, ini film rekomendasi banget deh. Mia and The White Lion menceritakan tentang persahabatan antara manusia (Mia Owen – Daniah De Villiers) dan seekor Singa putih langka (Charlie) yang cukup erat. Film ini dapat menceritakan kehidupan satwa liar dari sudut pandang yang berbeda.

Yang gua heran kok bisa ya ini film dibuat, gak tau itu pas semua aktingnya memakai singa beneran atau tidak, efek CGI atau semacamnya, tapi yang pasti gua liat sendiri sih ini nampak real banget. Suara dari hewannya juga jelas banget di telinga yang nonton ini film kaya seakan tuh ini hewan ada disamping kita. Kalo itu beneran asli kok berani yah aktor dan aktrisnya main film sama hewan. Hehe

Jadi setelah gua dan cari tau lebih lanjut, film Mia and The White Lion ini emang dibuatnya selama 3 tahun. Kebayang gak? 3 tahun man! Menggunakan aktor dan hewan yang sama! Jadi antara aktor sama hewannya ya mungkin memang sudah dibangun chemistry gitu diantara keduanya. Sehingga membuat tidak takut lagi saat berperan dalam film. Jadilah judul dari review kali ini dengan kata “intim”, kalau tidak intim, gak mungkin banget film ini dapat dibuat ‘kan?

Tapi yang namanya hewan ya tetaplah hewan. Apalagi singa, mereka masih punya sifat liar dan insting untuk memburu walaupun dari kecil udah dirawat dan dibesarkan sama manusia. Jadinya ya gua deg-deg an sendiri saat ada scene itu aktor sama singa nya, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang ada dipikiran gua. Ah ini karena gua mungkin efek kebanyakan nonton film horror kali ya, jadi suka menduga – duga sendiri gitu apa yang bakal terjadi didepannya, wkwk.

Susah banget buat ngomong bahwa ini film biasa aja mengingat proses pembuatan film ini yang makan waktu gak cepet, walaupun untuk jalan ceritanya sendiri terkesan biasa saja. Dari waktu ke waktu, masa ke masa, perubahan pun terjadi di antara keduanya. Mia menjadi bukan anak kecil lagi dan begitu juga dengan Charlie, ia bukanlah bayi Singa lagi yang imut dan lucu yang bisa dipangku dan di gendong.

Persahabatan antara keduanya pun semakin rumit untuk dijalani karena bukan kodratnya manusia untuk bersahabat dengan singa. Gak lucu banget kan pelihara singa dewasa didalem dapur, atau dikurung dalam kamar mandi.

Menurut gua pribadi sih akting Mia kecil dan mia besar beda banget. Saat kecil kaya kurang mendalami apa yang ia perankan. Mungkin guanya aja yang berharap lebih dari aktor perempuan yang masih kecil. Tapii, pas besarnya itu dia lebih dapet sama perannya sebagai sahabat Charlie, tentang bagaimana ia berjuang untuk dapat menyelamatkan kawan sahabat kecilnya itu.

Kasih jempol juga buat Mélanie Laurent yang berperan sangat apik sebagai Alice Owen, Ibunya Mia. Emosinya dapet banget saat ia menceritakan apa masalah yang terjadi sebenarnya. Untuk aktor lainnya berperan cukup baik namun tidak ada yang spesial. FYI, untuk pembuatan film ini juga turut dibantu oleh Kevin Richardson, sang “Lion Whisperer”.

Setelah menonton film ini, kamu dipastikan akan menjadi lebih sayang lagi kepada hewan liar terutama singa, karena fakta yang mencengangkan terhadap apa yang terjadi selama ini di Afrika Selatan, latar tempat pembuatan film ini. Jangan sampai kamu melewatkan film Mia and The White Lion ya !

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here