Review Film Hellboy (2019) – Terlalu Sadis Untuk Tayang di Indonesia

Hellboy si anak neraka yang ditunggu – tunggu para fansnya semenjak tahun 2008 ini akhirnya hadir di tahun 2019. Namun sayangnya, film Hell Boy 2019 ini bukanlah film sekuel ketiga dari Hellboy-nya Guillermo del Toro, melainkan Neil Marshall sebagai sutradaranya.

Cerita kelanjutan dari Hellboy II – The Golden Army (2008) tidak akan pernah terwujud oleh Guillermo del Toro dikarenakan penyebab salah satunya ialah faktor finansial. Jadilah Neil Marshall yang melanjutkan cerita dari tokoh ciptaan Mike Mignola ini sebagai sutradaranya, setelah ia sukses dalam film horror The Descent (2005) dan film – film horror lainnya.

Selain sutradara, pemeran utamanya si anak neraka ini juga turut berganti. Jika dulu Guillermo del Toro mempercayakan tokoh utamanya kepada Ron Perlman, kini Neil Marhall mempercayakan tokoh ‘kunci’nya kepada David Harbour, si bintang film dalam serial tv Stranger Things.

Dalam film Hellboy (2019) ini David Harbour berperan cukup baik dan menurut gua hampir mirip menyerupai dengan apa yang dilakukan Ron Perlman sebelumnya. Mulai dari gerak gerik, gaya berbicara, banyolan konyol yang khas serta yang lainnya. Entahlah, mungkin sebelum memainkan peran ini, ia sudah meperhatikan tokoh Hellboy sebelumnya dengan baik, detail dan seksama.

Diceritakan seperti pada film – film Hellboy sebelumnya, Hellboy 2019 masih tergabung menjadi anggota dalam Bureau for Paranormal Research and Defense (BPRD) yang tugasnya adalah melawan makhluk – makhluk dan monster yang asalnya bukan dari dunia ini. Ia kembali harus menyelamatkan dunia yang ia cintai beserta orang – orang didalamnya dari ancaman makhluk tersebut

Jika kita menilik kembali pada trailer filmnya, dimulai dengan munculnya sang Hellboy yang masih kecil dari dasar neraka.sedikit kilasan soal asal mula Hellboy yang konon lahir di “Kedalaman Neraka” hingga akhirnya ia diasuh oleh pimpinan BPRD, Trevor Bruttelholm (Ian McShane) dan menjadi boss nya ia sendiri dalam bekerja disana. “Kau menjadikan aku senjatamu” kata Hellboy.

Kemunculan dari tokoh antagonis perempuan yang menjadi lawan utama dari Hellboy dan diperankan oleh Milla Jovovich juga hadir pada bagian trailer film ini. Yang paling menarik adalah perubahan Hellboy yang menjadi lebih garang dengan Api yang menyala – nyala di atas kepala dan pedangnya serta ia memiliki tanduk yang panjang pada kepalanya.

Film ini termasuk kedalam kategori merah atau hanya boleh ditonton oleh orang dewasa saja. Banyaknya adegan sadis, berdarah – darah, brutal dan gore, menjadikan banyaknya adegan film yang dipotong. Sangat banyak. Menjadikan para penontonnya merasa kurang puas seperti merasa menonton film yang tidak utuh.

Perpindahan alur filmnya juga terkesan berantakan dan terburu – buru yang kemungkinan dikarenakan banyaknya scene di film ini. Banyak juga percakapan dialog tidak jelas dan tidak perlu yang membuat saya dan mungkin kebanyakan orang lainnya juga berpikir sendiri apa arti dan maksud nya. Scene humor nya juga jayus, garing, tidak tepat sasaran.

Kemudian, saat saya menonton film ini saya sering kali merasa tegang, seakan akan seperti sedang menonton film horror atau thriller. Mungkin ini karena Neil Marshall sebagai sutradara film ini yang memang spesialisnya dalam genre – genre tersebut, sehingga menjadikan film Hellboy ini berbumbu thriller ditangannya.

Entahlah, apakah masyarakat lebih suka dengan Hellboy sekarang yang seperti itu atau tidak. Namun kalau menurut pendapat gua, gua lebih suka Hellboy yang dulu, Hellboy-nya Guillermo del Toro.

Gua kangen, bagaimana ia bisa membuat jalan cerita yang menarik dan seru, tanpa adanya adegan sadis, brutal dan gore yang berdarah – darah seperti sekarang ini, yang membuat banyaknya adegan penting yang harus dipotong oleh lembaga sensor Indonesia. Mungkin di luar sana tidak menjadi masalah, namun berbeda dengan di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here