Rambo: Last Blood – Kembalinya Veteran Perang ke Pertempuran

Rambo: Last Blood – Film kelima John Rambo yang masih diperankan oleh Sylvester Stallone dari tahun 1982 ini akan menjadi kisah akhir dari perjalanan John Rambo, sang veteran perang yang brutal, ahli gerilya, mahir dalam menggunakan senjata apapun dan pintar dalam berkamuflase. Sebanyak apapun musuhnya, Rambo dikenal tidak pernah takut dan gentar dalam menghadapi musuh – musuhnya tersebut.

Namun manusia tetaplah manusia, musuh terbesar Rambo kini ialah hanya waktu. Stamina dan kekuatan Rambo tidak seperti saat ia muda dahulu dan yang tersisa ialah kenangan masa lalu. Ia selalu merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri karena dianggap tidak bisa menyelamatkan yang seharusnya bisa ia selamatkan. Rambo kini lebih memilih untuk hidup normal layaknya orang biasa, bersama dengan keluarganya.

Diceritakan Rambo yang kini tinggal di daerah Arizona Amerika Serikat hidup dengan damai bersama keluarganya yakni Carmen Delgado (diperankan oleh Paz Vega) serta keponakannya Rambo yakni Gabrielle (Yvette Monreal). Kehangatan dari keluarga ini sungguhu terasa serta chemistry dari ketiganya sungguh dapat. Gabriella yang dari kecil tinggal bersama neneknya dikarenakan Ibunya sudah meninggal dan Ayahnya pergi tanpa meninggalkan pesan apapun.

Pada bagian awal film hingga pertengahan saya rasa lebih banyak ke arah drama dan masih didalam tahap perkenalan konflik dan alur serta peran setiap karakter yang ada di film Rambo: Last Blood. Tidak ada suara pistol maupun bom, yang ada hanya kehidupan normal pada umunya, sampai suatu ketika Gabriella mendapatkan kabar dari temannya yang hidup di Meksiko bahwa ia mendengar kabar dari Ayahnya yang sudah lama tidak ada kabar.

Pada film Rambo: Last Blood ini diceritakan bahwa Meksiko adalah tempat berkumpulnya para penjahat dan tidak ada kebaikan sama sekali disana. Gabriella sudah diberitahukan akan hal ini berkali – kali dan ia dilarang untuk pergi ke Meksiko untuk dapat bertemu dengan Ayahnya disana. Namun kisah buruk menimpa Gabriella disana dan sekali lagi, Rambo harus beraksi untuk dapat menyelamatkan Gabriella.

Untuk penokohan karakter sendiri yang menonjol hanyalah Sylvester Stallone dan Paz Vega. Mereka berdua sangat ahli dalam memainkan emosi mereka dalam adegan – adegan tertentu yang menyentuh hati. Tidak jarang saya terkadang menjadi terbawa suasana dan perasaan karena akting mereka yang sangat menjiwai dari penokohan masing – masing.

Tidak ada yang spesial dari karakter penjahatnya, layaknya penjahat biasa pada film – film lain. Dan saya rasa penokohan dari penjahat itu sendiri kurang kuat dan masih terlalu mudah untuk dihadapi dan bisa dikalahkan dengan gampangnya oleh seorang Rambo. Mungkin akan lebih baik dan seru jika dari penjahat ini ada yang bisa melakukan bela diri dan terjadi adegan pukul memukul, bukan hanya sekali tembak yang langsung K.O.

Konsep. Konsep dari film Rambo ini yang saya kagumi dari dulu semenjak film Rambo First Blood pertama di tahun 1982. Tentang bagaimana Rambo sudah menyiapkan semuanya secara matang dan terhitung dengan akurat untuk berperang untuk meraih kemenangan. Konsep inilah yang tidak pernah hilang dari film Rambo dari waktu ke waktu, yang membuat film ini berbeda dengan yang lain dan menjadi ciri khas nya sendiri.

Rambo tetaplah menjadi Rambo yang saya kenal. Tidak peduli jika kulit wajahnya yang sudah mengkerut, otot yang mengendur atau  rambutnya yang memutih. Ia selalu bisa mengalahkan musuh yang menghadang dan mengganggu dirinya.

Jangan lupa untuk menonton Rambo: Last Blood hanya di bioskop tanah air kesayangan anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here